Nama Sumompo tidak begitu populer. Maksudnya tidak popular di telinga orang luar kota Manado. Namun bagi masyarakat Manado, nama Sumompo hampir tiap hari disebut. Karena Keberadaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan Lembaga Pemasyarakatan di Sumompo membuat namanya selalu disebut.
TPA Sampah Sumompo merupakan TPA
sampah tertua di kota Manado yang terletak di
Kecamatan Tuminting. TPA ini telah menjadi
sumber penghidupan para pemulung di lokasi
ini yang dibangun sejak tahun 1972. Dengan
demikian keberadaan TPA ini sudah 43 tahun lamanya.
Luas TPA sampah Sumompo saat ini 10
hektar, sebelumnya berjumlah 6 hektar namun
dengan kondisi bertambahnya produksi
sampah dari tahun ke tahun maka diadakan
penambahan luas sejumlah 4 hektar dengan
pembebasan lahan yang sudah selesai
dilaksanakan. Dengan adanya pembebasan
lahan ini direncanakan akan dibuat system landfill. Pengembangan sistem sanitari
landfill ini merupakan metode pemusnahan sampah dengan membuang dan menumpuk sampah ke suatu lokasi yang cekung (lubang), memadatkan sampah tersebut kemudian menutupnya dengan tanah. Metode ini dapat menghilangkan polusi udara dan lingkungan.
Sumompo adalah kelurahan yang terletak di pinggiran kota Manado. Merupakan wilayah kecamatan Tuminting. Terletak di wilayah perbatasan kota Manado dan desa Wori-kabupaten Minahasa Utara.
Setiap nama pasti memiliki arti. Demikian halnya dengan kelurahan Sumompo. Nama Sumompo telah beberapa kali mengalami perubahan. Pengaruh dialek dan pelafalan menjadi penyebabnya, sehingga tidak mengherankan jika banyak orang salah mengartikannya, bahkan orang Sumompo sendiri ada yang tidak tahu artinya.
Sumompo berasal dari kata humompong (bahasa Bantik), yang artinya duduk beristirahat. Dikisahkan bahwa pada zaman dulu, kelurahan Sumompo merupakan tempat persinggahan para pedagang dari desa Wori, Bengkol dan Pandu. Karena kelelahan berjalan kaki, mereka singgah dan duduk beristirahat di tempat yang sekarang dikenal dengan nama Sumompo.
Menurut Jusuf Therok, umur 48 tahun, penutur bahasa Bantik, nama awal Sumompo adalah humompong. Namun karena pengaruh dialek, kata humompong berubah menjadi sumompong; kemudian kata sumompong berubah menjadi Sumompo hingga saat ini.


bageeee
BalasHapusAbuuu
HapusSadissss
BalasHapusSmngat ndree wkw
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusMantul bngett kakaaaakkkk 😍😍
BalasHapusHaloo kka duta sampah 🤗
BalasHapus